Manajemen Sistem Keolahragaan Indonesia

Oleh Dr. H. Amung Ma’mun, M.Pd.

PASAL 4 UU No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN) mengisyaratkan bahwa yang dimaksud dengan keolahragaan nasional bertujuan memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran, prestasi, kualitas manusia, menanamkan nilai moral dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin, mempererat dan membina persatuan dan kesatuan bangsa, memperkukuh ketahanan nasional, serta mengangkat harkat martabat dan kehormatan bangsa.

Dalam konteks tujuan keolahragaan nasional seperti ini bangsa Indonesia sudah meyakini bahwa olah raga dimaknai amat luas dan mendasar sehingga gerak insani olah raga ditujukan tidak semata-mata mencari kesempurnaan performa gerak untuk memperoleh pengakuan dalam bentuk kompetisi, akan tetapi lebih jauh dari itu bahwa olah raga telah dipandang memiliki kompetensi dalam mengembangkan seluruh potensi diri individu, menyangkut fisikal, intelektual, spiritual, emosional, sosial, dan moral dalam rangka mencapai kualitas hidup individu, masyarakat, dan bangsa yang beradab.

Keseluruhan potensi diri individu yang dapat dikembangkan melalui olah raga dalam bahasa Gardner disebut sebagai multiple intelligent. Atas dasar pemikiran ini, keolahragaan nasional yang dikembangkan menyangkut tiga hal pokok, yaitu (1) olah raga pendidikan, (2) olah raga rekreasi, dan (3) olah raga prestasi sebagaimana diatur dalam pasal 17 UU SKN.

Manajemen keolahragaan nasional secara makro tentu bermuara pada pembagian peran antara pemerintah, swasta, dan masyarakat baik individu maupun kelompok termasuk sistem keolahragaan yang dianut. Pembagian tugas dan tanggung jawab antara pemerintah, swasta, dan masyarakat telah diatur secara jelas pula dalam UU SKN 2005, di mana dari pasal 6 sampai dengan 10 hak dan kewajiban individu sebagai warga negara, orang tua, dan masyarakat telah diatur. Pasal 11 mengatur hak dan kewajiban pemerintah dan pemerintah daerah, sedangkan pasal 12 sampai dengan 16 berkenaan dengan tugas, wewenang, dan tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah. Tugas pemerintah secara nasional diperankan oleh Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga dan pemerintah daerah oleh sebuah dinas yang menangani bidang keolahragaan.

Walaupun pengaturan peran antara pemerintah, swasta, dan masyarakat telah jelas, akan tetapi kita belum mampu mengembangkan sebuah sistem pembinaan keolahragaan secara nasional yang bersendikan UU SKN tersebut di atas.

Apakah model triangle (piramid) masih relevan dan tepat untuk dikembangkan terus di Indonesia sesuai dengan kandungan makna UU SKN? Ataukah ada bentuk yang lain? Kalau melihat substansi isi UU SKN, sepertinya sistem keolahragaan yang akan dikembangkan mengacu pada pemikiran Geoff Cook (1996) dengan teori House of Sport-nya yang banyak dikembangkan negara-negara maju di dunia.

Marilah kita uraikan sistem keolahragaan Geoff Cook dengan House of Sport-nya yang membagi struktur pembinaan keolahragaan, baik dalam konteks pendidikan, rekreasi maupun prestasi.

Basis pembangunan olah raga dalam House of Sport berakar pada lingkungan keluarga, pendidikan formal di lingkungan persekolahan, dan masyarakat secara luas. Setiap keluarga dipandang penting memahami agar olah raga dijadikan sebagai bagian hidup sehari-hari, karena selain bermanfaat dalam menciptakan keluaga yang sehat, rukun, optimis, memiliki fondasi yang kokoh dalam mengarungi kehidupan ke depan adalah juga bermanfaat bagi pembentukan individu dan keluarga agar memiliki modal sosial dan kecakapan hidup yang memadai dalam pergaulan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Demikian pula di lingkungan persekolahan, olah raga dan pendidikan jasmani dijadikan sebagai wahana berbagai pembelajaran kecakapan hidup, yang merangsang potensi diri berupa intelektual, sosial, moral, emosional, maupun spiritual. Lebih lanjut, olah raga di masyarakat secara luas, bermakna dalam memobilisasi masyarakat agar memiliki rasa optimisme dalam mengarungi kehidupannya termasuk menjadikan olah raga sebagai wahana pembentukan sikap hidup masyarakat yang sesuai dengan kaidah-kaidah sebagaimana nilai-nilai Pancasila.

1. Struktur dasar bangunan olah raga (foundation/ground floor).

Bangunan olah raga yang pertama adalah fondasi olah raga yang berada dan dikembangkan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Keluarga dan masyarakat memiliki kekuatan yang besar dalam membangun olah raga, karena kelompok ini jumlahnya paling besar dan memiliki peran strategis dalam menciptakan iklim kecintaan akan kegiatan olah raga sejak awal.

Upaya pemberdayaan keluarga dan masyarakat harus menjadi bidikan pertama sebelum memberdayakan komponen lain. Untuk memaksimalkan peran serta keluarga dan masyarakat dalam olah raga, pemerintah perlu memberikan stimulasi berupa penyediaan sarana dan prasarana pendukung yang aman dan nyaman bagi mereka.

Ketersediaan sarana dan prasarana atau ruang publik (public space) sangat penting, karena tanpa ruang publik yang memadai akan berpengaruh terhadap pembentukan perilaku menyimpang di keluarga atau masyarakat yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap pencapaian sasaran pembangunan SDM termasuk kualitas kehidupannya.

Dengan demikian, olah raga di lingkungan keluarga dan masyarakat sifatnya sangat mendasar. Langkah-langkah penyadaran akan pentingnya olah raga dalam kehidupan mereka menjadi modal utama dalam membangun keolahragaan untuk jenjang selanjutnya. Keluarga dan masyarakat menjadi stakeholder yang sangat berarti bagi komponen lainnya dalam sebuah sistem pemerintahan, struktur dalam birokrasi pemerintahan seperti Kemenegpora memiliki fungsi mengoordinasi dan membina setiap kegiatan olah raga, baik olah raga pendidikan, rekreasi, maupun prestasi secara berjenjang sampai pada struktur pemerintahan provinsi dan kabupaten kota. Berkaitan dengan olah raga pendidikan, tentu memerlukan kerja sama dengan Depdiknas agar program olah raga terstruktur, sinergis, dan berkelanjutan. Untuk mewujudkannya, struktur birokrasi pemerintahan secara nasional menetapkan pentingnya pembinaan dan pengoordinasian kegiatan olah raga pada lingkungan keluarga dan masyarakat secara luas.

2. Struktur bangunan pengenalan olah raga (ground floor).

Dalam mengenalkan olah raga secara lebih luas, peran sekolah sangatlah tepat, karena di sekolah berkumpul kader penerus bangsa mulai tingkat TK hingga pendidikan tinggi. Bentuk pengenalannya melalui pembelajaran pendidikan jasmani dan olah raga sekolah yang digariskan secara menyeluruh oleh pemerintah melalui kurikulum.

Dasar hukum dan operasional sudah dirumuskan secara jelas, adapun pelaksana di sekolah, yaitu guru pendidikan jasmani tinggal menjalankannya. Kewajiban pemerintah dalam merumuskan struktur bangunan pengenalan olah raga di lingkungan pendidikan dapat diwujudkan dalam bentuk dokumen rencana strategis kebijakan pemerintah secara nasional melalui Depdiknas yang implementasinya lebih lanjut dapat berkoordinasi dengan Kemenegpora.

Keberadaan dokumen ini akan membantu dalam memberikan arah kebijakan operasional penyelenggaraan kegiatan pendidikan jasmani dan olah raga di sekolah di seluruh Indonesia. Melalui kegiatan pendidikan jasmani dan olah raga sekolah di lingkungan lembaga pendidikan, masyarakat kita diharapkan selain cerdas dan terampil adalah juga unggul, kompetitif, sehat, bugar, serta bermartabat.

3. Struktur bangunan rekreasi olah raga (second floor).

Rekreasi olah raga terkait erat dengan aktivitas waktu luang di mana orang bebas dari pekerjaan rutin. Waktu luang merupakan waktu yang tidak diwajibkan dan terbebas dari berbagai keperluan psikis dan sosial yang telah menjadi komitmennya. Setiap manusia memiliki waktu luang. Esensi dasar dari waktu luang adalah tempo, kemauan sendiri, fokus pada pemenuhan diri, dan mencari kepuasan diri.

Sebagai tantangan apabila waktunya digunakan untuk berkarya atau mencari solusi dari persoalan hidup yang dihadapinya. Tetapi, menjadi sangat membahayakan manakala manusia berinovasi untuk melakukan sesuatu yang bersifat destruktif seperti yang terjadi di negara kita saat ini, di mana orang banyak memiliki waktu luang dan digunakan untuk hal-hal yang negatif.

Jadi, dengan adanya dua dimensi mengenai waktu luang ini perlu kiranya masyarakat diarahkan agar aktivitas waktu luangnya digunakan untuk hal-hal yang positif. Dalam mengmplementasikan rekreasi, individu atau kelompok dapat menyesuaikan diri dengan sesuatu yang benar-benar disukainya.

Tidak ada paksaan yang mengharuskan individu atau kelompok untuk melakukan sesuatu yang tidak disukainya. Oleh karena itulah, maka melalui aktivitas rekreasi kepuasan yang menjadi dambaan setiap insan ini akan dapat diwujudkan. Akhirnya, pemulihan diri yang menjadi sasaran utama dari aktivitas rekreasi seperti aspek fisik, psikis, emosional, dan sosial akan benar-benar dapat direalisasikan.

Pemulihan ini bisa bersifat individu atau kelompok tergantung pada sasaran yang ingin dicapainya. Dengan demikian, maka pemanfaatan waktu luang yang positif, yaitu melalui olah raga sangat penting bagi masyarakat agar dapat mengambil manfaat dalam pengembangan dirinya, khususnya untuk menghindari kegiatan-kegiatan membahayakan yang menjadi tantangan di era kehidupan global. Pemerintah berkewajiban untuk memfasilitasi sarana rekreasi yang mampu menjangkau masyarakat luas, sedangkan swasta dapat melakukannya dalam konteks industri layanan.

4. Struktur bangunan performa olah raga (third floor).

Performa olah raga diangkat dari hobi masyarakat yang berkembang melalui klub-klub olah raga yang ada di masyarakat. Meskipun belum mengarah pada pencapaian prestasi, keberadaannya sangatlah penting terutama untuk menjembatani kegiatan olah raga waktu luang. Dengan penyaluran hobi yang dikembangkan masyarakat melalui klub-klub diharapkan mendorong mereka untuk terus mengembangkan diri hingga meraih harapan yang diinginkannya.

Olah raga yang dilakukan secara teratur, terprogram, dan berkelanjutan, serta terintegrasi dengan kehidupan sosial kemasyarakatan, selain menjadi arena penyaluran hobi untuk tujuan membina kebugaran tubuh agar tetap sehat dan bugar, adalah juga menjadi kekuatan pembangunan prestasi olah raga.

5. Struktur bangunan olah raga unggulan dan elite (third floor).

Olah raga unggulan dan elite merupakan kelanjutan dari pembinaan olah raga sebelumnya dan berkembang melalui klub-klub olah raga yang sudah secara spesifik menentukan pilihan kecabangan yang dikembangkan oleh masyarakat dan difasilitasi oleh organisasi induk kecabangan olah raga yang melibatkan swasta dan dibantu oleh pemerintah.

Umumnya keberhasilan dalam olah raga unggulan dan elite lebih berorientasi pada pencapaian prestasi berupa raihan medali dan urutan juara. Dalam jenjang olah raga elitis, pencapaian prestasi diasumsikan sebagai indikator suksesnya pembinaan olah raga yang dibangun organisasi olah raga.

Bangunan itu tidak mungkin kokoh apabila fondasi sebelumnya kurang dibina secara saksama antara individu, masyarakat, dan pemerintah.

6. Struktur bangunan olah raga puncak (gold floor).

Olah raga puncak berupa pencapaian prestasi yang mampu memberi kontribusi dalam mengharumkan nama bangsa dan negara. Pembinaan olah raga kompetitif dan pencapaian prestasi dapat dimanfaatkan sebagai pemicu bagi pengembangan sektor kegiatan lainnya, berdasarkan nilai-nilai yang relevan, nilai kehormatan, semangat kejuangan, kebersamaan, pengorbanan, orientasi terhadap mutu dan prestasi, dan tindakan rasional.

Parameter keberhasilan pembinaan, diutamakan pada kriteria pencapaian mutu prestasi, bukan sekadar meraih medali sebanyak-banyaknya. Paradigma baru ini diharapkan mampu mengakselerasi peningkatan prestasi olah raga di tingkat internasional. Jenjang ini, aktualisasinya terorganisasikan oleh sebuah sistem yang dibangun dari kompetisi olah raga, baik nasional maupun internasional.

(Penulis, Dekan FPOK-UPI, Ketua II KONI Jabar, Alumnus PPSA XV Lemhannas 2007)

(http://www.pikiran-rakyat.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: