Gatrik

Posted in Permainan Tradisional on November 30, 2007 by pojokpenjas

Gatrik atau Tak Kadal pada masanya pernah menjadi permainan yang populer di Indonesia. Merupakan permainan kelompok, terdiri dari dua kelompok.

Permainan ini menggunakan alat dari dua potongan bambu yang satu menyerupai tongkat berukuran kira kira 30 cm dan lainnya berukuran lebih kecil. Pertama potongan bambu yang kecil ditaruh diantara dua batu lalu dipukul oleh tongkat bambu, diteruskan dengan memukul bambu kecil tersebut sejauh mungkin, pemukul akan terus memukul hingga beberapa kali sampai suatu kali pukulannya tidak mengena/luput/meleset dari bambu kecil tersebut. Setelah gagal maka orang berikutnya dari kelompok tersebut akan meneruskan. Sampai giliran orang terakhir. Setelah selesai maka kelompok lawan akan memberi hadiah berupa gendongan dengan patokan jarak dari bambu kecil yang terakhir hingga ke batu awal permainan dimulai tadi. Makin jauh, maka makin enak digendong dan kelompok lawan akan makin lelah menggendong.

Kasti

Posted in Tidak terkategori on November 30, 2007 by pojokpenjas

Kasti atau Gebokan merupakan sejenis olahraga bola. Permainan yang dilakukan 2 kelompok ini menggunakan bola tenis sebagai alat untuk menembak lawan dan tumpukan batu untuk disusun. Siapapun yang berhasil menumpuk batu tersebut dengan cepat tanpa terkena pukulan bola adalah kelompok yang memenangkan permainan. Pada awal permainan, ditentukan dahulu kelompok mana yang akan menjadi penjaga awal dan kelompok yang dikejar dengan suit. Kelompok yang menjadi penjaga harus segera menangkap bola secepatnya setelah tumpukan batu rubuh oleh kelompok yang dikejar. Apabila bola berhasil menyentuh lawan, maka kelompok yang anggotanya tersentuh bola menjadi penjaga tumpukan batu. Kerjasama antaranggota kelompok sangat dibutuhkan seperti halnya olahraga softball atau baseball.

Benteng

Posted in Permainan Tradisional on November 30, 2007 by pojokpenjas

Benteng, adalah permainan yang dimainkan oleh dua grup, masing – masing terdiri dari 4 sampai dengan 8 orang. Masing – masing grup memilih suatu tempat sebagai markas, biasanya sebuah tiang, batu atau pilar sebagai ‘benteng’.

Permainan

Tujuan utama permainan ini adalah untuk menyerang dan mengambil alih ‘benteng’ lawan dengan menyentuh tiang atau pilar yang telah dipilih oleh lawan dan meneriakkan kata benteng. Kemenangan juga bisa diraih dengan ‘menawan’ seluruh anggota lawan dengan menyentuh tubuh mereka. Untuk menentukan siapa yang berhak menjadi ‘penawan’ dan yang ‘tertawan’ ditentukan dari waktu terakhir saat si ‘penawan’ atau ‘tertawan’ menyentuh ‘benteng’ mereka masing – masing.

Tawanan

Orang yang paling dekat waktunya ketika menyentuh benteng berhak menjadi ‘penawan’ dan bisa mengejar dan menyentuh anggota lawan untuk menjadikannya tawanan. Tawanan biasanya ditempatkan di sekitar benteng musuh. Tawanan juga bisa dibebaskan bila rekannya dapat menyentuh dirinya.

Taktik

Dalam permainan ini, biasanya masing – masing anggota mempunyai tugas seperti ‘penyerang’, ‘mata – mata, ‘pengganggu’, dan penjaga ‘benteng’. Permainan ini sangat membutuhkan kecepatan berlari dan juga kemampuan strategi yang handal.

Gobak Sodor

Posted in Permainan Tradisional on November 30, 2007 by pojokpenjas

Masih ingatkah anda permainan gobak sodor?
Kenapa disebut gobak sodor mungkin menurutku karena permainan ini maju mundur melalui pintu-pintu. Dalam bahasa Belanda istilah gobak Sodor mungkin artinya sama dengan kata dalam Bahasa Inggris “Go Back Through the Door”, sebagian menyebutnya Galasin, bisa saja adaptasi bahasa dari bahasa Belanda yang kalau di Bahasa Inggriskan menjadi “Go Last In”, sayangnya kata-kata tersebut hanya rekaan rekayasa kutak-katik kataku saja jadi jangan ditanya kebenarannya.
Remaja sekarang mungkin tidak familiar dengan jenis permainan ini, karena selain tidak ada pialanya permainan ini perlu beberapa orang yang mengikutinya. Garis-garis penjagaan dibuat dengan kapur seperti lapangan bulu tangkis, bedanya tidak ada garis yang rangkap.
Gobak sodor terdiri dari dua tim, satu tim terdiri dari tiga orang. Aturan mainnya adalah mencegat lawan agar tidak bisa lolos ke baris terakhir secara bolak-balik. Untuk menentukan siapa yang juara adalah seluruh anggota tim harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.
Anggota tim yang mendapat giliran “jaga” akan menjaga lapangan , caranya yang dijaga adalah garis horisontal dan ada juga yang menjaga garis batas vertikal. Untuk penjaga garis horisontal tugasnya adalah berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas. Bagi seorang yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal maka tugasnya adalah menjaga keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan.
Permainan ini sangat menarik, menyenangkan sekaligus sangat sulit karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat mungkin jika diperlukan untuk meraih kemenangan. Kalau kita sudah lepas dari garis batas terakhir kita menjadi bebas merdekaa.. inilah yang kita tuju..

Dunia Bisnis dibalik Permainan Gobak sodor.. 

Selain kebersamaan, kita juga bisa belajar kerja sama yang kompak antara satu penjaga dan penjaga lain agar lawan tidak lepas kendali untuk keluar dari kungkungan kita. Di pihak lain bagi penerobos yang piawai, disana masih banyak pintu-pintu yang terbuka apabila satu celah dirasa telah tertutup. Jangan putus asa apabila dirasa ada pintu satu yang dijaga, karena masih ada pintu lain yang siap menerima kedatangan kita, yang penting kita mau mau berusaha dan bertindak segera. Ingatlah bahwa peluang selalu ada, walaupun terkadang nilai probabilitasnya sedikit.
Selain bisa kita ambil hikmah untuk dunia bisnis, sebenarnya permainan ini juga mengandung makna spiritual.

Nilai Spiritual dalam Permainan Gobak Sodor….

“Wahai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu, melainkan masuk lah dari berbagai pintu yang berbeda-beda” (Q.12:67)
Sifat bolak-balik sering dihubungkan dengan kalbu (dalam bahasa arab disebut qalb), karena letak keimanan di kalbu, maka biasanya kadar keimanan juga terkadang seperti gelombang turun-naik, untuk itu kita harus menumbuhkan tingkat keimanan kita agar linier menuju tingkat kesempurnaan. Artinya bahwa iman itu menuntut perjuangan yang terus menerus, tanpa henti.
Dalam perjalanan menuju Sang Mutlak untuk membuka tabirnya, kita perlu mengikuti jalannya (syariah). Kita bisa jadi tidak akan sampai kepada Kebenaran Mutlak itu, karena kita  ini nisbi. Walaupun tidak mungkin mencapai kepada Kebenaran Mutlak, namun kita dituntut untuk konsisten bergerak menuju jalan yang mengarah kepadaNya. Rasa kedekatan kepada Sang Pencipta itu sendiri yang membuat kita merasa aman, damai dan nikmatnya iman (dzauq). Tingkat tertinggi keimanan ini semangatnya dapat difahami melalui firman-Nya :
“Wahai Jiwa yang tenang kembalilah engkau pada Tuhanmu dengan penuh kerelaan dan direlakan, kemudian bergabunglah dengan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku” (Q.S. 89:27-30).

Jethungan

Posted in Permainan Tradisional on November 30, 2007 by pojokpenjas

Ada satu pohon. ini kayak permainan hantu-hantuan di jepang. jadi yang lain sembunyi, ada satu yang mencari (mirip petak umpet juga). Nah, kalau yang sembunyi ini ada yang berhasil menyentuh pohon, maka yang tadi jadi si pencari harus kembali menjadi pencari. gitu-gitu deh..

Jek-jekan

Posted in Permainan Tradisional on November 30, 2007 by pojokpenjas

Ada dua kelompok (bisa campuran co/ce). masing-masing kelompok menguasai satu pohon. nah masing-masing anggota kelompok berusaha untuk menyerang kelompok lain dengan cara menyentuh pohon lawan. syaratnya adalah tidak tersentuh oleh lawan dulu. kalau tersentuh lawan, maka masuk penjara (lingkaran di samping pohon si lawan). untuk mengeluarkan, musti disentuh oleh temannya. oh ya, bagi yang menyentuh pohonnya sendiri paling akhir, dia lebih “kuat” . jadi kalau aku sudah menyentuh pohonku dua menit yang lalu, terus febs (biar asik, kan cewek) nyentuh pohonnya satu menit yang lalu, maka ketika febs menyentuhku (duh gemeter pas nulis ini) aku kalah, dipenjara. Yang menang adalah yang berhasil menyentuh pohon lawan.

Oray-orayan

Posted in Permainan Tradisional on November 30, 2007 by pojokpenjas

Oray-orayan luar leor mapay sawah
Entong ka sawah parena keur sedeng beukah
Oray-orayan luar leor mapay sawah,
Entong ka sawah parena keur sedeng beukah,

Mending ge teuleum,
Di leuwi loba nu mandi,
Saha nu mandi,
Anu mandina pandeuri……….
Kok…….kok………kok…….

Itu tuh salah satu kakawihan atau nyanyian masyarakat Sunda. Nah, dulu sih, lagu ini tuh dinyanyikan saat anak-anak bermain “oray-orayan”. Nah, gak tau lagi deh pasti, permainan kayak apa sih oray-orayan itu?

Permainan tradisional oray-orayan ini dimainkan oleh sekira 5 hingga 20 anak atau lebih. Cara bermainnya ,yaitu anak-anak berbaris berurutan memanjang ke belakang, sambil berpegangan pada bahu anak (pemain) yang di depannya. Salah seorang anak bertindak sebagai pemimpin atau kepala ular, dan tangannya dalam posisi bebas. Sedangkan anak-anak lainnya bertindak sebagai badan dan ekor ular. Sambil diiringi lagu yang di atas tadi tuh, para pemain yang berjejer memanjang ke belakang ini meliuk-liuk menirukan gerakan seekor ular, mengitari arena permainan.

Waktu lagunya udah mau abis nih, pas syairnya kok….kok…..kok, menirukan suara ayam yang sedang berkokok, maka anak yang bertindak sebagai kepala ular, menangkap temannya yang berada di barisan paling belakang. Nah, begitulah seterusnya sampai semua anak habis ditangkap.

Saat kepala ular atau pemimpin permainan, menangkapi ekornya tersebut, pemain yang menjadi ekor akan merasa ketakutan dan berusaha menghindari kepalanya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.